Kamis, 12 Desember 2013

Topeng Malang Karya Mbah Reni



Topeng Malang Karya Mbah Reni
Sebuah uraian pengetahuan Peninggalan Seni Topeng Malang dari Dsn Panawijen ( skrng Polowijen Kota Malang )
Raden Panji Wiropatie dan Dewi Ragel Koening.''
Dua topeng ini mungkin bisa di sebut masternya topeng malang.topeng panji<hijau> dan dewi ragel koening<hitam>..di buat oleh Bapak dan anak boyoet Reni<bapak> dan Beji Roeminten<anak>..sekitar awal abad 19,Beji seorang dalang dari panawijen karangelo kab malang Mbarang<ngamen keliling> dari satu desa ke desa lain.akirnya menikah dan menetap di jabung kab Malang .beji roeminten tidak tinggal menetap .di ceritakan oleh ki Soleh Adi pramono<58th> yang mendapat cerita ini dari kakeknya yai Tir atau pak Roesman<sahabat beji roeminten>.ketika terjadi banjir kali amprong ,beji yg saat itu tinggal di pucang songo tumpang pergi melihat areal sawahnya yg tergenang banjir.di lihatnya potongan kayu<dugel,bahasa jawa> .potongan kayu di bawa Pulang untuk di jadikan bediangan/bakaran ketika ronda malam<kemit,bahasa jawa> anehnya selama hampir tujuh hari dugel itu tidak habis terbakar,timbul niatan untuk di buat topeng. topeng yg di buat ada empat buah yaitu panji,klana,gunungsari dan potro,empat topeng itu konon adalah kawitan/cikal bakalnya topeng di daerah tumpang dan sekitarnya.juga kisahkan bahwa empat toeng itu memiliki kekuatan yang luar biasa bagi yang memakainya...kisah ini juga di ceritakan oleh pak Jayadi <75th>dari desa precet jabung kab malang.....sedagkan ragel koening konon adalah buatan dari boeyoet reni sendiri.topeng ini dulunya berwarna kuning keemasan/prada..karena usia dan seringnya di kutuki menyan<di asapi> dan di miyaki/di urapi minyak wangi warnanya jadi hitam pekat<keleng,bahasa jawa>..topeng ini dulu masih di mainkan oleh anak turun reni yaitu pattawi<alm> seorang penari dan pengukir topeng terakir dari panawijen,wafat1992,(baca artikel onghokham.WAYANG TOPENG THE WORLD OF MALANG,1972). banyak kisah mistis seputar topeng ini,terakir topeng ini di wariskan pada Mbok dari<goendari> salah seorang anak Reni,setelah goendari wafat 1984 topeng itu di koleksi oleh tuan Sangke,seorang tionghoa pengusaha rotan di panawijen.sangke wafat th 1992 karena sakit.Joko seorang sopir karyawan sangke tinggal di Bunul kota malang di percaya merawat topeng tsb .dan akirnya setelah hampir 20th penulis menemukan topeng tsb.penulis tertarik dengan kisah - kisah Reni dan wayang topeng malang,hampir 5th penulis berusaha mengumpulkan informasi tentang Empunya topeng malang, Reni '' Sang sunging adi linuwih'',dari desa panawijen malang.berkat ridho tuhan semua berhasil terlaksana .bahkan penulis bersama rekan seniman malang berkesempatan merehap makam sang Empu, penulis hanya berharap semoga karya beliau dan anak turunya bisa lestari dan langgeng di bumi malang tercinta.Amien..
Contoh Foto topeng = topeng panji<hijau> dan dewi ragel koening<hitam>..di buat oleh Bapak dan anak boyoet Reni<bapak> dan Beji Roeminten<anak>..sekitar awal abad 19



UNDANGAN

UNDANGAN :
Hari ini tgl 12 Desember 2013 HUT MALANG DANCE
Tempat, Jl Simpang Kepuh Panjura Blok A Sukun Kota Malang
Jam 19.00
Acara; KEMBUL DONGO (MARI MENARI BARENG BARENG)

Selasa, 25 Juni 2013

Peringatan Pancasila dan 2874 tahun Jawa

Peringatan Pancasila dan 2874 tahun Jawa, pada tanggal 27 Juni 2013, pukul 19.00 WIB, di Taman Krida Budaya, Jalan Soekarno Hatta, Kota Malang

Ludruk Lerok Anyar

Ludruk Lerok Anyar akan pentas di taman krida budaya, Jalan Soekarno Hatta, Kota Malang.
Pada tanggal 29 Juni 2013, pukul 19.00 WIB, Gratis!!!
Kali ini mereka akan pentas dengan lakon Sarip Tambak Oso
CP: 081233200051 (Cak Marsam)

Segera Terbit Majalah Kebudayaan 'PASAR SENGGOL'

Majalah Pasar Senggol akan terbit perdana pada September 2013 nanti.
Majalah ini berisikan tentang kajian-kajian budaya-budaya Malang.
Diterbitkan dengan semangat untuk memunculkan kembali budaya Malang yang sudah lama tidak terangkat.
Majalah ini bisa dibaca oleh semua kalangan, terutama juga untuk anak muda agar bisa mengambil fitrah dari budaya sendiri.
Nantinya majalah ini akan terbit sebanyak 40 halaman dengan oplah 500 eksemplar, 20% full colour. Ukuran majalah standart (20x28cm). 

Senin, 03 Juni 2013

Mak Kadam, Sang Maestro Tandak Ludruk


Tandak ludruk menjadi kesenian favorit masyarakat Malang pada 1960-an. Beberapa pelakunya masih bisa ditemui hingga sekarang. Salah satunya yaitu Kadam atau biasa orang memanggil Mak Kadam.

Diusianya yang sudah tua ia masih ingat betul perjuangannya ketika masih aktif ngludruk dari panggung ke panggung. Ia seringkali diundang oleh presiden Soekarno di Istana Negara. Presiden pertama Indonesia itu memang sangat senang dengan kesenian Ludruk.

Mak Kadam masih terlihat energik ketika diminta untuk ngremo dan ngidung (menyanyikan tembang kidungan). Lelaki kelahiran 1939 ini tak sungkan menampilkan gerakan demi gerakan dengan jari-jemarinya yang lemah gemulai.

Sambil menari, ia lalu bercerita tentang perjalanannya. Bermain ludruk berawal dari perangkat desa yang mengundangnya. Bakat itu terlihat ketika ngidung setiap kali ia mencari rumput. Didengarlah keahlian itu oleh perangkat desa hingga ia mendapat tawaran.

Berita Duka

Innalillahi Wainailaihirojiun..
Berita Duka..

Telah meninggal dunia, salah satu Maestro Tari Malangan
mbah Chattam AR, hari Minggu pukul 11.55 wib di RSI Malang.


Semoga amal ibadahnya diterima di sisi Allah SWT. Amin...

Kamis, 30 Mei 2013

The Sound of Silent

Pameran Tunggal, The Sound of Silent
Pameran lukisan dari kawan iok dan Didik Mojo
Tanggal 1-9 Juni 2013 di Gedung Dewan Kesenian Malang, Jalan Majapahit No. 50 Kota Malang.
Akan dibuka pada 1 Juni 2013, pukul 19.30 WIB
Spesial Perform by Suara Accoustic



Jumat, 24 Mei 2013

Wayang dalam Dunia Topeng (Bagian 7)






 oleh Onghokham

Penurunan topeng di Polowidjen tidak mewakili situasi nyata dari wayang topeng di Malang. Untungnya untuk budaya ini, Kangsen, Mbok Dan, dan Kastawi bukan hanya perwakilan pelaku topeng tersebut. Menyebar di daerah masih ada pemahat lainnya, dan di sisi Malang-Kepanjen juga dikenal pemahat dan orang-orang yang benar-benar terlibat dalam bisnis topeng wayang.

Di selatan Malang menuju pantai Ngliyep, di Desa Senggreng, seorang ayah dan anak yang serba ahli dalam seni local. Mereka memiliki rombongan topeng wayang, tari, mengukir topeng serta wayang kulit dan bertindak sebagai dalang.

Begitu juga Kepanjen, disini sebagai pusat aktif topeng wayang. Ada beberapa rombongan topeng di daerah tersebut, salah satunya di Sumberpucung sebuah desa yang terletak antara Malang ke Blitar.

Jumlah yang relative besar bisa membuat semacam kompertisi di daerah tersebut, membuat perlu bahwa seniman local menjadi ahli dalam banyak bentuk seni yang berbeda untuk mempertahankan dirinya.

Sabtu, 18 Mei 2013

Wayang dalam Dunia Topeng Malang (bag 6)



Oleh Onghokham
Kastawi dari Polowidjen
Hari ini di desa Polowidjen seorang pria bernama Kastawi adalah salah-satunya yang terlibat dalam bisnis wayang topeng. Ia adalah keturunan Mbah Reni, dan oleh karenanya ia mewarisi topeng ayahnya sebagai penerus untuk menjaga tradisi.
Ia terkenal sebagai pemahat topeng, meskipun dari kurangnya pelindung maskernya kurang mewah dari Mbah Reni. Sepuluh tahun yang lalu ia bermain dengan rombongan wayang. Namun sayang, pada saat itu orang-orang desa sudah lebih banyak berintergrasi dengan orang kota.
Orang-orang desa datang ke kota lebih diperkerjakan sebagai buruh, sopir truk, tukang kayu, dan pembuat mebel. Orang-orang kehilangan minat terhadap topeng wayang tersebut dan lebih memilih ludruk dan wayang orang.
Pada saat itu, topeng wayang sudah terlihat sepi. Akhirnya ia pergi dan memutuskan untuk memimpin sebuah kelompok wayang orang. Alasannya adalah bahwa ia tidak mampu bersaing dengan kelompok kerabatnya dari Djabung yang terkenal dengan gamelan perunggunya.Miliknya hanya gamelan besi kualitas biasa.

Rabu, 15 Mei 2013

Wayang dalam Dunia Topeng Malang (bag 5)


Oleh Onghokham
Polowidjen untuk masa lalu…
Djabung sekarang menjadi pusat topeng dari dareah Tumpang Malang-Blimbing. Polowidjen sekarang sedikit mirip perkotaan meskipun masih agak pedesaan. Ada beberapa rumah besar yang tumbuh dan dibangun wilayah ini.
Pada tahun 1930, Mbah Reni tinggal di desa ini. Dia merupakan pemahat terbesar Topeng gaya Malang dan memimpin salah satu rombongan terbaik topeng wayang saat itu. Polowidjen saat ini menjadi terkenal karena aktivitas Mbah Reni pada saat itu. Apalagi di jaman itu topeng wayang mencapai salah satu poin yang tinggi.
Perkembangan itu juga dibantu oleh Bupati Malang yaitu RAA Soeria-Adiningrat yang memasok dan membantu Mbah Reni dalam hal artistik seperti emas daun, cat yang baik, dan kayu. Saat ini masker Mbah Reni berada pada koleksi pangeran dan museum. Kolektor topeng menjaga mereka sebagai pusaka.
Topeng milik Mbah Reni memiliki proporsi yang sangat sempurna, ukiran halus, dan warna cat yang terampil. Tidak ada orang sezamannya atau pendahulu mencapai standar tinggi dalam hal artistik seperti itu. Di Malang, topeng milik Mbah Reni dianggap klasik.
Di desa Polowidjen hanya ada satu topeng milik Mbah Reni yang tersisa yaitu milik putrinya yang bernama Mbok Dan, seorang Janda yang saat itu masih berusia sekitar 50 tahunan, yang tinggal di sebuah rumah sederhana dan kecil dengan ukiran yang sangat khas.
Topeng merupakan sosok Ragilkuning (seorang putrid dalam siklus Pandji). Ini memiliki proporsi sempurna, ukiran pada setiap sudut mata dan mulut sangat kuat dan halus.

Minggu, 12 Mei 2013

Wayang dalam Dunia Topeng Malang (bag 4)




Oleh Onghokham
Rombongan topeng wayang yang lazim terdiri dari penari laki-laki. Tidak ada wanita, peran perempuan diambil oleh penari laki-laki. Selain penari individu tidak memiliki peran tetap. Rombongan ini terdiri dari lima penari dewasa dan sembilan penari anak-anak, berumur empat tahun hingga remaja.
Rombongan penari wayang selalu memiliki anak yang berasal dari desa yang sama dengan orang dewasa. Mereka termasuk dalam rangka untuk lulus pada tradisi teater untuk generasi muda. Seluruh rombongan termasuk musisi, pembantu, dan gantungan berjumlah sekitar 25 orang. Pemimpin rombongan topeng adalah roh dan tiang kelompok. Dia adalah pemimpin produksi, dalang, satu set topeng, gamelan, dan pemilik kostum.
Di Jabung ada seorang pria bernama Kangsen. Dia tinggal di salah satu rumah batu terbesar dan pemilik tanah juga. Dia memiliki tjikal-bakal (pendiri keluarga) dari djabung dan memiliki reputasi. Dia berpikir untuk memiliki beberapa suci kekuasaan atau dalam hal apapun untuk menjadi dukun yang bisa dipanggil untuk melakukan ritual di upacara ruwatan.
Kangsen sangat sadar hal-hal ini, dia suka untuk menegaskan posisinya di daerah tersebut. Dia menyatakan bangga bahwa setiap saat ia menjadi lurah, ia bisa melakukannya. Namun, ia tidak merasa seperti menghabiskan banyak uang untuk kampanye pemilu.
Kangsen selalu menganakan pakaian hitam: celana hitam lebar, sabuk kulit yang luas di sekitar pinggang, jaket hitam longgar atas putih. Ia memiliki tubuh langsing seakan memberikan kesan kekuatan batin, dan tidak pernah tersenyum. Ia berhasil memimpin kelompoknya secara efisien dan mengawasi setiap masalah teknis atau artistik tanpa rewel meskipun Topeng Malang anggotanya cenderung menjadi primadona dan melihat diri mereka lebih sebagai mitra dalam topeng wayang daripada sebagai orang di bawah kepemimpinan Kangsen itu.
Itu bukan kebetulan bahwa Kangsen terlibat dalam bisnis topeng. Seperti biasa terjadi di dunia seni Jawa, ia mewarisi posisinya. Ayah Kangsen berasal dari desa Polowijen dan saudara Mbah Reni, pemimpin topeng paling terkenal dan mengharumkan nama desa Polowidjen.
Pelindung Mbah Reni adalah R.A.A. Soeria-Adiningrat, Bupati Malang yang disebutkan sebelumnya. Mbah Reni punya saudara lain bernama Nita, yang juga pemahat wayang kulit. Seperti Mbah Reni atau Nita meninggalkan Putra. Kedua kerabat tersebut sama-sama menekuni hal yang sama. Terlepas dari itu, beberapa keluarga bisa juga tidak akur karena urusan pribadi, Kangsen melakukan bisnis karena merupakan urusan keluarga dan atas kerjasama keluarga.

Selasa, 07 Mei 2013

Wayang dalam Dunia Topeng Malang (bag 3)



Oleh Onghokham
Ada perbedaan yang perlu diketahui antara penari khas Malang dengan beberapa penari khas Jawa Tengah. Antara lain untuk khas Jawa Tengah masker dipegang oleh string sekitar kepala dan bukan oleh sepotong kulit di mulut. Sedangkan Topeng Malang terbuat dari kayu yang berat tebal da kuno dengan dagu persegi, tulang pipi tinggi, fitur penuh ukiran dan kumis yang terlihat gagah.
Topeng Jawa Tengah selalu dicat atau diganti dengan rambut asli atau palsu. Topeng Malang selalu memiliki mulut tertutup sedangkan masker dari Jawa Tengah memiliki mulut terbuka.
Bagian lain dari kostum penari topeng adalah kulit djamang di kepala penari, kulit Sumping (hiasan telinga), jaket beludru pendek bordir dengan emas dan perak atas T-Shirt putih atau beludru hitam bersulam payudara piring. 

Jumat, 03 Mei 2013

Pagelaran Ludruk

Saksikan pagelaran ludruk teater siswa-siswi SMA Negeri Pagak. Sabtu tanggal 4 Mei 2013, pukul 19.00, di Dewan Kesenian Malang. Pementasan dengan lakon cerita Malin Gundang 2013.

Pagelaran Teater

SMA Turen akan mengadakan pagelaran teater di Dewan Kesenian Malang (DKM) tanggal 4 Mei 2013

Wayang dalam Dunia Topeng Malang (bag 2)



oleh Onghokham
Kinerja
Pada tahun 1963 saya melihat pertunjukan wayang topeng di desa Djabung, sekitar dua puluh kilometer timur laut dari Kota Malang. Pada saat itu orang mencapai Djabung yaitu dengan pergi ke barat daya menuju Tumpang. Biasanya memkai transportasi dokar dan kerbau yang ditarik cikar yang menuju ke desa. Djabung agak terisolasi meskipun terletak di daerah subur dan makmur, bukan ditunjukkan oleh langgar dan rumah-rumah yang besar di daerah tersebut. Kinerja diadakan pada kesempatan perayaan Hari Kemerdekaan Desa pada tanggal 17 Agustus. Ini dimulai pada 20.00 dan selesai 03.00.
Kinerja diadakan di rumah besar pemimpin Topeng wayang dengan struktur sementara bambu depan berdampingan dengan rumah untuk mensimulasikan sebuah pendopo. Di pendopo tersebut menggantung tirai dicat dengan istana-istana, pegunungan, dan tjandis-tjandis ketenaran lokal. Gamelan (Jawa orkestra), satu set pelog, berada di depan panggung, sementara penonton dikelilingi pada tiga sisi.

Minggu, 28 April 2013

Wayang dalam Dunia Topeng Malang (bag 1)

Oleh Onghokham
Wayang topeng adalah drama tari kinerja berdasarkan cerita-cerita dari siklus Pandji dengan aktor mengenakan masker atau topeng sementara dalang menceritakan kisah itu. Bentuk seni ini dikenal di seluruh Jawa. Beberapa daerah, bagaimanapun, dikenal karena gaya mereka sendiri topeng, kostum, dan gaya menari. Pada artikel ini, Malang (Jawa Timur) wayang topeng tradisi akan dijelaskan.
Malang telah lama menjadi pusat Topeng budaya. “Kepandjen” adalah nama tempat di daerah Malang yang diambil dari wayang, Pandji. Pada tahun 1930-an tradisi ini menerima pemberitahuan dari Dr. Th. Pigeaud dalam volume standar pada Jawa Volksvertoningen (pertunjukan populer Jawa).
Salah satu informan Pigeaud kemudian menjadi Bupati Malang, Raden Adipati Soerio-Adiningrat, pelindung besar dari seni dan terutama Topeng Malang. Koleksi sendiri terkenal bupati yakni Topeng Malang masih ditampilkan hari ini di Museum Sono Budojo Yogyakarta. Beberapa topeng lain dari koleksi menemukan cara mereka ke lain “koleksi nasional”, bahwa dari Pangeran Magkunegara VII akhir Surakarta mungkin karena Raden Ayu adalah cucu dari Mangkunegara II. Di Kabupaten Malang sendiri Dr.Th. Pigeaud mencatat di tahun 1930-an keberadaan sebanyak dua puluh satu set masker setiap topeng mengandung 40-60. Berapa banyak set sekarang tidak diketahui meskipun setiap setiap set masih konvensional mengandung 40-60 masker. Dr. Pigeaud dan bupati berakhir pada observasi dengan pandangan pesimistis tentang masa depan tradisi topeng wayang topeng Malang.
Hari ini, satu memiliki alasan masih lebih bersikap pesimistis. Peningkatan perjalanan antara bagian yang berbeda dari Jawa dan pengaruh penyiaran radio dari pusat-pusat perkotaan telah menyebabkan kecenderungan sentralisasi dalam budaya Jawa pada biaya tradisi seni setempat. Kesenian jawa telah menjadi lebih dan lebih terkonsentrasi di perkotaan, sedangkan ludruk dari Surabaya, ketoprak dari Yogyakarta, wayang orang dan wayang kulit dari Surakarta telah menjadi focus perhatian.

Minggu, 14 April 2013

Dramatari Tradisional Topeng Wayang


Lagi, Tari Topeng Malangan


 
(Suara Indonesia, Minggu, 3 Nopember 1985)
Kira-kira 6 Kilometer ke arah selatan dari bendungan Karang Kates setelah melewati hutan jati, sampailah di Desa Kopral/Sukowilangun, Kec. Kalipare, Kabupaten Malang. Desa yang cantik dan ramah.

Di rumah kayu gaya Jawa Timuran versi “tempoe doloe” dalam ukuran besar menurut porsi kota, seperti bersila menghadap pelataran yag gilar-gilar baru disapu.

“Monggo...” terontar sambutan dari pemilik rumah ketika penulis ber-“kulo nuwun” sembari mengagumi teduhnya rumah kayu yag terhindar dari lilitan kabel listrik.

Mbah Putri (nyonya rumah) seraya terhuyung-huyung karena usia, membukakan pintu menyambut sungkem tamunya, penuh keibuan.

Di sudut kanan ruang, sebuah balai-balai besar difungsikan sebagai tempat menyimpan seperangkat gamelan besi tua yang penuh riwayat. Perabot lainnya juga keriput tua, sedang lantainya tanah saja.

Rabu, 10 April 2013

Apresiasi Wayang Kulit

Komunitas Pardada Nusa Kota Malang akan mengadakan apresiasi wayang kulit pada tanggal 24 april 2013, di Dewan Kesenian Kota Malang, Jalan Mojopahit 3, Kota Malang. Sebagai kalender rutin.

Pameran Seni Rupa

Pameran seni rupa oleh komunitas seni Brawijaya, diprakarsai oleh Badan Pengurus Harian (BPH) Dewan Kesenian Kota Malang. Tanggal 20 April 2013 di Gedung DKM. Jalan Mojopahit 3, Kota Malang

Rabu, 06 Maret 2013

Pasrah

Klana Sabrang nggedruk bumi
Melangkah gagah mencari nurani
Mencari inti tabir budi
Selaras puser bumi
Teriring kiat hati siap dengan berpasrah diri

Senin, 04 Maret 2013

Gusti...

Jantungku mengalir dalam riak gelombang Sang Penguasa
Berdegup kencang sambil menunggu keagungan kebijaksanaan
Tercabiknya harga diri
Sirna sudah idealis ini
Menerawang jauh awan berarak
Secawan mangkok kosong berada di tangan
Oh... Gusti...
[Yongki Irawan]

Kamis, 28 Februari 2013

Pemimpin Jaman Edan

Setan-setan kemunafikan bergentayangan berebut jadi pemimpin
Mengobral visi dan misi, mimpi buat rakyat
Pejuang yang dahulu berteriak dengan lantang
Revolusi dimana mereka sekarang
setelah merasakan enaknya keju dan roti???

[Yongki Irawan]

TARI BESKALAN (Bagian 2)



Tari Beskalan merupakan suatu tarian gaya putri yang dipertunjukan pada acara kedua sesudah tarian pembuka pada suatu pementasan. Dasar tari terdiri dari rangkaian ragam-ragam yang disebut “Solah”, disusun dengan penghubung-penghubung gerak tertentu yang disebut “Sendi”, gerakan tarinya bersifat non representatif.
Di dalam menari kadang-kadang penarinya juga menyanyikan lagu-lagu daerah setempat (lagu rakyat dengn iringan musik tradisional berlaras slendro).
Penarinya empat orang, akan tetapi seperti pada setiap seni pertunjukkan rakyat lainnya yang disiplinnya sangat longgar, maka penarinya dapat juga dua orang, atau bahkan seorang saja. Tarian demikian selalu dipertunjukan hampir pada setiap acara pertunjukkan kedua sesudah Ngremo atau tarian awal lainnya. Misalnya pada pertunjukan Saronen di Situbondo dan sekitarnya, tarian awalnya bukan Ngremo melainkan tari Branyak. Demikianlah sesudah tari Branyak itu, dipertunjukan kemudian Beskalan tersebut yang didaerah Situbondo lebih dikenal dengan istilah Srimpi atau Bedayan.
Gending yang dipakai untuk mengiringi tarian ini adalah salah satu gending ; Beskalan, Ayak-ayak, Meram-merem.
Tarian putri dalam corak demikian ternyata merata di seluruh Jawa Timur seperti misalnya di sekitar Malang, Sidoarjo, Surabaya, dan wilayah pantai di mana kebudayaan Madura sangat besar pengaruhnya seperti; Probolinggo, Pasuruan Lumajang, Situbondo dan Bondowoso. Semula tarian ini merupakan tarian berfungsi sebagai penghormatan kepada tamu-tamu, yang segera berdatangan bila telah didengar tarian awal telah ditampilkan. Cara menghormati tamu sedemikian ini di Madura disebut Remo. Dari perkataan ini, kemudian tidak jarang Beskalan disebut pula Ngremo. Dan karena penarinya putri maka disebut juga Ngremo Putri.

Rabu, 27 Februari 2013

SEJARAH TARI BESKALAN (Bagian 1)


Malang memang menyimpan segudang warisan sejarah dan budaya. Masyarakat tidak boleh luput sedikitpun akan perkembangannya, kalau tidak mau tergusur oleh budaya modern. Selain topeng Malangan, masih banyak lagi aktivitas budaya yang ada di Malang. Salah satunya yaitu tari Beskalan yang populer pada abad ke 20.

Kali ini saya akan sedikit menerangkan mengenai tari Beskalan. Pada abad 20 tersebut keberadaannya berkembang bersamaan seni pertunjukan Andong (seni pertunjukan sejenis tayub yang dipentaskan untuk ngamen atau mbarangan pada waktu itu) dan ritual penghormatan roh-roh leluhur baik di punden-punden desa maupun di tempat air (babakan).

Nah, tari Beskalan dianggap sebagai bentuk tari yang paling tua atau sebuah tari yang muncul pertama kali. Pada tahun 1920-an lahir seorang penari legendaris Beskalan yaitu Miskayah, ia berasal dari Desa Ngadirekso, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang. Pada usia belasan tahun, Miskayah sudah menjadi tandak pada Andong. Sebelumnya ia memiliki nama Sukanti.

Jumat, 22 Februari 2013

Topeng Malangan Pentas di Thailand

Pada 1 Maret 2013, rombongan tari topeng Malang dari padepokan Asmorobangun akan tampil di Thailand dalam ajang Festival Panji Asia Tenggara.

Jumat, 15 Februari 2013

Jenis Buku Tari


Kisah Klasik Merentang Zaman




KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA
Melalui kisah Ramayana dan Mahabarata, India menyebarkan kebudayaan ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Cerita fiksi itu berusia ribuan tahun ini menjadi bagian dari kebudayaan Indonesia hingga sekarang.

Oleh Lusiana Indriasari

Dari Kompas, 16 Feb 2013- Pada periode klasik Hidu-Buddha, dari Pulau Jawa muncul cerita Panji yang menyebar hingga ke Thailand, Malaysia, Singapura, Laos, Myanmar, dan Kamboja. Di tanah asalnya, Malang, jawa Timur, kisah klasik itu terus dihidupkan oleh wayang topeng.

Dusun Kedungmonggo tidak ubahnya dusun-dusun lain yang tergempur modernisasi. Di sepanjang jalan yang menghubungkan Kota Malang dengan Blitar, rumah tembok bertebaran di antara ladang tebu dan areal persawahan. Antena parabola menyembul dari beberapa atap rumah.

Di dusun kecil itu, Tri Handoyo (35) meneruskan tradisi leluhurnya, membuat topeng untuk pertunjukan wayang topeng Malangan. Bersama kakaknya, Soeroso, Handoyo mewarisi Padepokan Panji Asmorobangun yang didirikan kakeknya, almarhum Karimoen, legenda wayang topeng Malangan.

Kamis, 14 Februari 2013

PAGELARAN TEATER

PAGELARAN TEATER PINTU dari Lawang, Kabupaten Malang.
Acara di Balai Pemuda Surabaya, tanggal 26 Februari 2013
Judul: Mencari Indonesia II

Seniman Tradisi Perlu Tunjungan Hidup

beritaenak.wordpress.com
Dari Jakarta, Kompas (14 Feb 2013)- Seniman tradisi yang sudah berusia lanjut membutuhkan tunjungan finansial untuk menopang hidup sehari-hari. Mereka yang sebenarnya bisa menjadi sumber ilmu pengetahuan ini luput dari perhatian banyak pihak.
Mereka yang menggeluti seni tradisi dan kini sudah lanjut usia bukan berarti tidak produktif lagi. Kadam (75), seniman tandak ludruk yang tinggal di Malang, Jawa Timur misalnya, bukan tidak bisa lagi menari dan menyanyi. Namun, seiring dengan semakin surutnya teater tradisional itu, Kadam tidak banyak lagi diajak pentas.
Mbah Munawi (94), maestro tari topeng Malangan yang piawai menarikan tokoh Gunungsari, juga tidak aktif lagi pentas. Namun, ia masih hafal betul dengan gerak tari topeng Gunungsari.
Pengetahuan Mbah Munawi tentang tari topeng membuat ia dicari banyak murid yang ingin belajar tari topeng, khususnya topeng Gunungsari. Munawi yang tinggal di Lowokwaru, Malang, ini melatih menari di sanggar sejak tahun 1927.
Kini, hidup mbah Munawi serba kekurangan. Ia dan Kadam sama sekali tidak pernah mendapatkan tunjangan dari pihak mana pun pada masa tuanya.
Yongki Irawan, penasihat lembaga Kesenian Indrakila Malang, Rabu (13/2), mengatakan, tunjangan pemerintah lebih terfokus kepada seniman yang masih produktif, sementara nasib seniman tua tidak diperhatikan.
Musikolog Rizaldi Siagian yang banyak bersentuhan dengan seniman tradisi mengatakan, seniman tradisi yang sudah lanjut usia perlu kembali diberdayakan, misalnya dengan menggali pengetahuan mereka. (IND)     

Menguak Situs dan Pengembangan Topeng Malang



www.museumwayang.com

Berbicara topeng Malangan, maka kita kembali ke masa lampau pada lokasi topeng Malang itu berkembang. Di Kota Malang ada sebuah dusun yang bernama Watu Kenong, terletak di Desa Polowijen, Kecamatan Blimbing. Di daerah tersebut terdapat situs peninggalan kerajaan Singosari yakni berupa piring-piring keramik Dinasti Shung dan Ming, patung, tembikar-tembikar kuno, pusaka keris/tombak dan batu bata yang berukuran sama dengan batu bata zaman Kerajaan Mojopahit, (ada yang masih berupa Fondasi pada penelitihan tahun 1980). Konon, ada patung Kendedes yang di bawa ke Belanda

Dari desa Polowijen tidak hanya ada peninggalan yang berupa material saja. Tapi lahir sebuah perkembangan tari Topeng Malangan yang sampai sekarang masih menjadi ikon khas budaya Kota/Kabupaten Malang. Dari desa tersebut muncul nama Mbah Reni, seorang maestro topeng Malangan. Terkait hal itu, dikuatkan juga penelitihan topeng Malang oleh sejarahwan Ong Hok Ham (Alm) selama kurang lebih 10 tahun (majalah Mutiara 26 Oktober 1982), dokumen tulisan ada pada penulis. Data lain juga berasal dari pengakuan beberapa maestro topeng Malangan Kik Tir (Alm) dari Desa Jabung, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang.

Pada tahun 1971, seorang guru tari dari SMKN 1 Surabaya bernama A.Munardi (Alm) juga mulai mengadakan penelitian tari topeng Malang di Desa Jabung. Ditambah lagi pengakuan Mbah Widji (alm). Beliau bercerita pada usia yang saat itu sudah akhil-balik tentang perjalanannya menjadi seorang seniman tari. Beliau menuturkan belajar tari topeng Malang kepada Mbah Reni, menurutnya drama tari topeng Malangan di bagi menjadi 3 wilayah yang masing-masing membawakan cerita yang berbeda-beda:
  1. Daerah Utara : membawakan cerita Mahabarata/Ramayana.
  2. Daerah Tengah : membawakan cerita Panji
  3. Daerah Selatan : membawakan cerita Menak

Selasa, 12 Februari 2013

BUDAYA NUSANTARA




Bicara budaya kita diajak untuk mengerti menuju Kesadaran agar tercapai Pencerahan, di Nusantara ini beragam budaya yang ada, kelihatannya sudah tidak banyak yang Mengerti/ atau memang ada upaya untuk mentabukan mengerti Budaya Lokal. Bila tataran mengerti saja sudah di abaikan bagaimana kita bisa masuk pada Kesadaran apa lagi tataran Penyerahan. Bangsa yang Besar adalah Bangsa yang mau mengerti akar budaya lokalnya.