Oleh
Onghokham
Rombongan
topeng wayang yang lazim terdiri dari penari laki-laki. Tidak ada wanita, peran
perempuan diambil oleh penari laki-laki. Selain penari individu tidak memiliki
peran tetap. Rombongan ini terdiri dari lima penari dewasa dan sembilan penari
anak-anak, berumur empat tahun hingga remaja.
Rombongan
penari wayang selalu memiliki anak yang berasal dari desa yang sama dengan
orang dewasa. Mereka termasuk dalam rangka untuk lulus pada tradisi teater
untuk generasi muda. Seluruh rombongan termasuk musisi, pembantu, dan gantungan
berjumlah sekitar 25 orang. Pemimpin rombongan topeng adalah roh dan tiang
kelompok. Dia adalah pemimpin produksi, dalang, satu set topeng, gamelan, dan
pemilik kostum.
Di
Jabung ada seorang pria bernama Kangsen. Dia tinggal di salah satu rumah batu
terbesar dan pemilik tanah juga. Dia memiliki tjikal-bakal (pendiri keluarga)
dari djabung dan memiliki reputasi. Dia berpikir untuk memiliki beberapa suci
kekuasaan atau dalam hal apapun untuk menjadi dukun yang bisa dipanggil untuk
melakukan ritual di upacara ruwatan.
Kangsen
sangat sadar hal-hal ini, dia suka untuk menegaskan posisinya di daerah
tersebut. Dia menyatakan bangga bahwa setiap saat ia menjadi lurah, ia bisa
melakukannya. Namun, ia tidak merasa seperti menghabiskan banyak uang untuk
kampanye pemilu.
Kangsen
selalu menganakan pakaian hitam: celana hitam lebar, sabuk kulit yang luas di
sekitar pinggang, jaket hitam longgar atas putih. Ia memiliki tubuh langsing
seakan memberikan kesan kekuatan batin, dan tidak pernah tersenyum. Ia berhasil
memimpin kelompoknya secara efisien dan mengawasi setiap masalah teknis atau
artistik tanpa rewel meskipun Topeng Malang anggotanya cenderung menjadi
primadona dan melihat diri mereka lebih sebagai mitra dalam topeng wayang
daripada sebagai orang di bawah kepemimpinan Kangsen itu.
Itu
bukan kebetulan bahwa Kangsen terlibat dalam bisnis topeng. Seperti biasa
terjadi di dunia seni Jawa, ia mewarisi posisinya. Ayah Kangsen berasal dari
desa Polowijen dan saudara Mbah Reni, pemimpin topeng paling terkenal dan
mengharumkan nama desa Polowidjen.
Pelindung
Mbah Reni adalah R.A.A. Soeria-Adiningrat, Bupati Malang yang disebutkan
sebelumnya. Mbah Reni punya saudara lain bernama Nita, yang juga pemahat wayang
kulit. Seperti Mbah Reni atau Nita meninggalkan Putra. Kedua kerabat tersebut
sama-sama menekuni hal yang sama. Terlepas dari itu, beberapa keluarga bisa
juga tidak akur karena urusan pribadi, Kangsen melakukan bisnis karena
merupakan urusan keluarga dan atas kerjasama keluarga.