Senin, 03 Juni 2013

Mak Kadam, Sang Maestro Tandak Ludruk


Tandak ludruk menjadi kesenian favorit masyarakat Malang pada 1960-an. Beberapa pelakunya masih bisa ditemui hingga sekarang. Salah satunya yaitu Kadam atau biasa orang memanggil Mak Kadam.

Diusianya yang sudah tua ia masih ingat betul perjuangannya ketika masih aktif ngludruk dari panggung ke panggung. Ia seringkali diundang oleh presiden Soekarno di Istana Negara. Presiden pertama Indonesia itu memang sangat senang dengan kesenian Ludruk.

Mak Kadam masih terlihat energik ketika diminta untuk ngremo dan ngidung (menyanyikan tembang kidungan). Lelaki kelahiran 1939 ini tak sungkan menampilkan gerakan demi gerakan dengan jari-jemarinya yang lemah gemulai.

Sambil menari, ia lalu bercerita tentang perjalanannya. Bermain ludruk berawal dari perangkat desa yang mengundangnya. Bakat itu terlihat ketika ngidung setiap kali ia mencari rumput. Didengarlah keahlian itu oleh perangkat desa hingga ia mendapat tawaran.



Betapa senangnya Mak Kadam mendapat tawaran tersebut. Ia langsung mendapat tawaran tampil untuk menjadi seorang tandak. Peran tersebut ia dapatkan karena memiliki suara kecil mirip seorang perempuan.
Ketenarannya tersebut membuat ia sering diundang pentas hingga tampil di Gedung Nasional Indonesia (GNI), Bubutan, Surabaya. Nah, saat itu pentolan Ludruk Marhaen Surabaya kesengsem dengan Mak Kadam. Hingga akhirnya ia resmi dijadikan anggota.

Perjalanannya bermain Ludruk terus ia lalui hingga ia diundang untuk menghibur tentara Dwikora saat aksi ganyang Malaysia pada tahun 1964.

Kebanggaan yang ia rasakan yaitu pernah diundang tujuh kali ke istana negara oleh Presiden Soekarno. “Terakhir kali pada tahun 1967, rasanya senang sekali seperti ke surga. Saat itu saya bermain di depan Pak Karno, tangan saya ditarik dari panggung ke ruang tamu,” ujarnya.

Pada 1972, ludruk marhaen yang turut membesarkan namanya harus dibubarkan oleh pemerintahan Soeharto karena dinilai mengajarkan ajaran Soekarno. Saat itu ia kembali ke Malang dan bergabung dengan Ludruk Gema Budaya Malang.

Ia terus menapaki jalannya sebagai seorang tandak, meskipun ia pernah dicibir karena perangainya yang seperti orang wanita. Pada 1990, Ludruk semakin surut karena musik electon dan dangdut yang terus memasuki perkampungan. “Saya sangat miris dengan kondisi Ludruk, namun saya yakin saat ini masih ada orang yang suka Ludruk. Meskipun kondisi saya yang sudah tua saya akan tetap bermain ludruk,” ujarnya.[]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar