Minggu, 14 April 2013

Lagi, Tari Topeng Malangan


 
(Suara Indonesia, Minggu, 3 Nopember 1985)
Kira-kira 6 Kilometer ke arah selatan dari bendungan Karang Kates setelah melewati hutan jati, sampailah di Desa Kopral/Sukowilangun, Kec. Kalipare, Kabupaten Malang. Desa yang cantik dan ramah.

Di rumah kayu gaya Jawa Timuran versi “tempoe doloe” dalam ukuran besar menurut porsi kota, seperti bersila menghadap pelataran yag gilar-gilar baru disapu.

“Monggo...” terontar sambutan dari pemilik rumah ketika penulis ber-“kulo nuwun” sembari mengagumi teduhnya rumah kayu yag terhindar dari lilitan kabel listrik.

Mbah Putri (nyonya rumah) seraya terhuyung-huyung karena usia, membukakan pintu menyambut sungkem tamunya, penuh keibuan.

Di sudut kanan ruang, sebuah balai-balai besar difungsikan sebagai tempat menyimpan seperangkat gamelan besi tua yang penuh riwayat. Perabot lainnya juga keriput tua, sedang lantainya tanah saja.


Dua sudut yang lain tumbuh dengan segar bunga Sri Rejeki dalam pot kuali merupaka aksentuasi dari suasana keseluruhan atau mungkin menyimpan beberapa ungkapan simbolis tertanam di situ. Langsung terasa “mysteri space” khas rumah jawa dalam arsitektur “ramah” namun remang, sejak dan mampu membuat kerasan pihak tamu yang bertandang.

Bergairah...

Mbah Widji (93) guru tari, dalang, pengrawi yang juga sesepuh kesenian Topeng Malangan keluar dari kamar “Pasideman” dengan senyum khas seorang seniman tua.

Pada mulanya ia menanggapi biasa-biasa saja. Boleh jadi penulis dianggap mau berurusan denga pertanian atau kesehatan. Setelah memfokuskan pembicaraan mengenai topeng dan pedalangan, tiba-tiba gairahnya tampak “pasang” bagai tersentil benang kebekuannya. Mata yang kuyu itu semakin cerah, sebinar kopi panas yang baru dihidangkan Mbah Putri.

Sambil entah berapa kali menawarkan kopinya, dia berkisah dengan gaya pedalangan, sisa kemampuan yang masih dimiliki. Kakek ini tampak berusaha keras memerangi ketuaannya. Semangat mudanya mencuat. Bicaranya merocos enak di dengar. Bisa dipastikan bahwa masa mudanya memiliki volume suara dominan bariton yang mampu menjangkau berbagai warna suara dominan bariton yang mampu menjangkau berbagai warna suara para pelakon yang didalanginya. Dia seseakali berdiri di samping kursi dan mempergakkan elemen gerak “wukel gelung” atau “sabetan patih”, mash tampak bekas-bekas kelenturan tubuhnya yang menawarkan getaran sebagai refleksi gerak dari dalam, di luar kesadarannya. Segala tingkah tampak hidup penuh makna sebab menyertakan “roh” sebagai inti gerakan.

Sesekali Mbah Widji, diam seperti mengingat sesuatu, dan tiba-tiba lihatlah dia membuat sikap “tanjek” (kuda-kuda dalam istilah silat), mengangkat kaki, merentangkan tangan dalam siku-siku penuh perhitungan, undur sedikit, tancap ke depan penuh emosi disertai kibasan tangan kiri bagai membuang sampur. Sungguh mantap gerakan seniman tari berumur lanjut ini.

Penulis menilai, dialah Ken Arok dengan selendang panjang meililit leher yang ujungnya meraba tanah sambil menghunus keris di hadapan lawan, dengan sekali hentakan buyarlah dada musuhnya.

Pada 1917, yaitu 68 tahun yang lalu, dia mulai berlatih menari pada Mbah Reni yang “cikal bakal” tari Topeng Malangan, dan Widji muda lagsung menjadi murid kesayangan, karena kecakapan, juga karena postur tubuhnya yang artistik.

Dalam “Akademi Mbah Reni” dia mempelajari tiga jenis pakem cerita yag harus dikuasai yakni Pakem Kediri (cerita Panji dan Dewi Sekartadji), Pakem Mojopahitan (Cerita Damarwulan dan Kenconowungu), Pakem Layang Menak (Cerita Umar Amir).

Dengan lahap Widji muda dan rekan-rekannya kala itu mengunyah segenap pelajaran, baik raga maupun spiritual, kemudian melebur keseniannya ke dalam hidup yang menyatu. Dan ternyata hal di masa muda itu bertahan sampai tua. Satu bukti kesetiaan yang tangguh, dimana kehidupan, kesenian dan disiplin beragama luluh menjadi satu tanpa bingkai terpisah.

Pada tahun 1925, setelah sewindu menempa ilmu, serasa kejatuhan bulan. Karena sempat berpenta di Cadipuro, Pasirian, ketika dalang yang seharusnya bertugas mendadak sakit keras dan sebagai pengganti dipilihnya Widji, yang ternyata mampu menjalankan tugas dengan sempurna.

Saat itu pula Mbah Reni “Mewisudanya” sebagai dalang yang sah. Kala itu predikat dalang bukan dipilih atas dasar ketrampilan saja, tapi juga kearifan sebagai manusia dalam merangkul kesenian.

Menurut Mbah Widji, pernah di suatu malam Belada datang mengangkutnya ke tangsi Gampingan dekat Kepanjen (1927) rasa was-was sudah pasti ada.

Sampai di tempat kekhawatiran Widji jadi hilang, karena ternyata malah diminta melatih tari para serdadu Belanda.

“Tentu saja saya bersedia, karena urusannya adalah tari bukan perang. Apa boleh buat seandainya setelah menari kemudian perang lagi. Lagi pula benci saya sama si bule itu kepati-pati!” ucapnya.

Masa Surut...

Seputar tahun 1940-50-an hampir tiap malam kelompok topeng Mbah Widji mengadakan pementasan di berbagai pelosok Jawa Timur. Dalam perjalanan itu dia menanam andil besar demi menggugah kesadaran berkesenia kepada masyarakat yang dilewati, bagai menyebar “pamflet seni” dalam mewarnai hidup. 

Terbukti dalam dekade tahun itu banyak bermunculan berbagai jenis kesenian tradisional dengan suburnya. Kenangan yang dirasa mendalam adalah ketika diundang pentas ke pendopo kanjengan (kabupaten) Malang semalam suntuk pada tahun 1945.

Namun pada akhir tahun ’60-an jadwal pementasan Tari Topeng mulai surut, dan nyaris gulung tikar. Kadang hanya pentas satu kali dalam setahun, itupun untuk memperingati hari besar nasional.

Untunglah, Mbah Wdji dalam usia lanjut ini, masih mampu menghimpun kelompoknya walau dalam kegiatan “gladen” secara berkala, walau dengan jumlah anggota yang kian menyusut.

“Saya ingin, pelataran yang kosong itu (sembari menunjuk halaman rumah) penuh dengan anak-anak belajar menari di saat terang bulan seperti dulu,” kata Mbah Widji yang masih suka nembang di tempat tidur ini.

Penari-penari muda di Malang, menurut Mbah Widji, yang pernah sambang sehubungannya dengan tari adalah Hari Bedali dan Chattam mereka ini dianggap sebagai cucu kakek ini.

“Kapan cucu yang lain mau sambang ke sini? Rumah ini tak seharusnya kosong begini,” ujarnya tulus.
Konon salah seorang bocah di desanya pernah bercerita bahwa di TV sering muncul Tari Topeng Malangan dengan pakaian bagus-bagus.

Kabar itulah yang membesarkan hati Mbah Widji, dan dibuat patokan bahwa di antara sejumlah remaja sekarang menari topeng, artinya tari jenis ini bakal langgeng selamanya. [Yudhi Sidharta]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar