Jumat, 24 Mei 2013

Wayang dalam Dunia Topeng (Bagian 7)






 oleh Onghokham

Penurunan topeng di Polowidjen tidak mewakili situasi nyata dari wayang topeng di Malang. Untungnya untuk budaya ini, Kangsen, Mbok Dan, dan Kastawi bukan hanya perwakilan pelaku topeng tersebut. Menyebar di daerah masih ada pemahat lainnya, dan di sisi Malang-Kepanjen juga dikenal pemahat dan orang-orang yang benar-benar terlibat dalam bisnis topeng wayang.

Di selatan Malang menuju pantai Ngliyep, di Desa Senggreng, seorang ayah dan anak yang serba ahli dalam seni local. Mereka memiliki rombongan topeng wayang, tari, mengukir topeng serta wayang kulit dan bertindak sebagai dalang.

Begitu juga Kepanjen, disini sebagai pusat aktif topeng wayang. Ada beberapa rombongan topeng di daerah tersebut, salah satunya di Sumberpucung sebuah desa yang terletak antara Malang ke Blitar.

Jumlah yang relative besar bisa membuat semacam kompertisi di daerah tersebut, membuat perlu bahwa seniman local menjadi ahli dalam banyak bentuk seni yang berbeda untuk mempertahankan dirinya.


Banyak pelanggan topeng wayang yang biasanya mewarisi pusaka beberapa topeng ketenaran besar bertanggung jawab untuk sebagian besar pendukung tradisi topeng di Malang. Mereka membangun set lengkap topeng dan tetap hidup dalam mitos mereka.

Selanjutya, mereka umumnya membantu menjaga seni itu sendiri dengan patonase mereka dari rombongan dan pemahat. Mereka menjalankan sesuai dengan pengetahuan mereka tentang contoh-contoh yang ditetapkan oleh seniman di masa lalu.

Pahlawan Jawa, Panji di Masa Mudanya

Di Kabupaten Malang tepatnya di desa Pucangsongo, 5 kilometer dari arah Tumpang dan arah Candi Kidal. Seorang kepala desa mewarisi Sembilan topeng Mbah Reni. Sepuluh tahun yang lalu ia adalah pemahat lokal dengan lebih dari 40 topeng. Selain itu ia juga  mendirikan 12 rombongan penari.

Topeng buatannya digunakan untuk perayaan desa. Ia juga menyewakan topeng-topengnya ke desa-desa lain dan orang-orang yang tertarik. Ada juga satu set pusaka terkenal dari desa Sranggeng yang digunakan dengan cara yang sama seperti Pucangsono.

Tidak semua set topeng di daerah Malang, bagaimanapun disebut topeng pusaka. Pada 1963 beberapa set juga dijual. Pada waktu itu satu set lengkap dengan kostum biasa dijual sekitar Rp 40 ribu-Rp 45 ribu. Harga tersebut sangat sesuai karena untuk mempertahankan artis dan penghidupan sehari-hari keluarganya.

Ini adalah topeng pusaka, disebut sebagai sebuah keindahan atau legenda. Dikenakan oleh penari terkenal cerita panji tradisional yang menjaga orang Malang agar tetap terpesona oleh wayang topeng.

Terkadang bisa dikatakan benar bahwa topeng bisa memiliki daya magis khusus, seperti untuk menangkal penyakit atau membuat hujan turun. Bukan topeng sihir seperti ada di Kabupaten Malang, terkadang disamakan seperti topeng-topeng yang ada di gua-gua Blitar atau di desa-desa gunung atau hutan dari Kediri.

Sementara itu di wilayah Malang sendiri, pusaka topeng dapat ditelusuri ke pemahat tekenal yang pernah mengisi sejarah Malang. Jika pada masa selanjutnya topeng Mbok Dan dimiliki orang lain, maka tradisi topeng tidak belum mati. Seorang penari topeng mengatakan keteguhannya akan topeng Malangan. “Kami melakukan hal yang sama dalam kayu, bahwa nenek moyang kita ada di batu,” katanya sambil menunjuk ke ukiran pada reruntuhan dari candi Tumpang yang mewakili dari ritme kehidupan.[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar